Site Loader
Rock Street, San Francisco

Secara
harfiah, kemiskinan diartikan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi
kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, kesehatan, dan
pendidikan. Kemiskinan juga berarti tidak mampu mengimbangi tingkat kebutuhan
hidup sesuai standar, serta tingkat ekonomi dan penghasilan yang dimiliki
rendah. Simpulnya, kemiskinan adalah suatu standar tingkat hidup yang tergolong
rendah dikarenakan seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi standar
hidup yang layak, baik itu di bidang ekonomi, kesehatan, maupun pendidikan.

Kemiskinan merupakan persoalan kompleks yang menjadi fokus
pemerintah pada hampir seluruh negara di dunia. Kemiskinan dapat menjadi induk
bagi berbagai macam masalah sosial lainnya, seperti timbulnya kelaparan,
kriminalitas merajalela dan sebagainya. Dengan demikian, kemiskinan menjadi hal
utama yang harus ditanggulangi oleh negara-negara di dunia. Oleh sebab itu,
organisasi internasional PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) meletakkan masalah
kemiskinan pada posisi pertama dalam 17 tujuan pembangungan berkelanjutan yang
ditargetkan akan tercapai dalam 15 tahun kedepan (2015-2030). Menurut Kunarjo
dalam Badrul Munir (2002:10), suatu negara yang dikatakan miskin dapat ditandai
dengan rendahnya tingkat pendapatan perkapita, tingkat pertumbuhan penduduk
yang tinggi (lebih dari 2 persen per tahun), sebagian besar masyarakatnya
bermata pencaharian di bidang pertanian dan terjebak dalam lingkaran setan
kemiskinan.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Berdasarkan data statistik PBB, saat ini tercatat satu milyar
penduduk dunia hidup di garis kemiskinan mutlak. Bahkan mereka tidak dapat
makan secara proporsional satu kali dalam sehari. Disamping itu, sekitar empat
milyar orang hidup relatif miskin karena krisis pangan, sulitnya akses air
bersih, serta fasilitas dan infrastruktur lainnya yang tidak memadai. Masalah
kemiskinan dan kelaparan saat ini sudah mencapai titik yang memprihatinkan,
dengan fakta setiap detiknya satu anak meninggal dunia karena gizi buruk.
Sementara di sisi lain, Organisasi Pangan dan Pertanian Internasional (FAO)
menyatakan bahwa harga pangan yang mengalami kenaikan diperkirakan akan semakin
memperparah tingkat kemiskinan di dunia.

Berdasarkan data Bank Dunia, tepat saat terjadinya kekeringan
di negara-negara Tanduk Afrika, harga pangan di Somalia melonjak hingga
mencapai puncaknya sejak tahun 2008 lalu. Masalah kemiskinan ini tidak hanya
terjadi di Tanduk Afrika, tetapi krisis ekonomi dalam beberapa tahun terakhir
juga berdampak pada Amerika Serikat. Data statistik di Amerika tahun 2011
menunjukkan, jumlah warga miskin di negeri Paman Sam tersebut telah melampaui
angka 46 juta orang. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam 17 tahun
terakhir. Di Indonesia, tingkat kemiskinan mengalami penurunan, namun hanya
pada angka persentase nya saja. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik),
tingkat kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan dari yang semula sebesar
10,70% pada tahun 2016 menjadi 10,64% pada tahun 2017. Meskipun secara persentase
mengalami penurunan, namun secara angka, jumlah penduduk miskin di Indonesia
mengalami kenaikan sebanyak 6,90 ribu orang jika dibandingkan antara tahun 2016
yang berjumlah 27,76 juta orang dengan tahun 2017 yang mencapai 27,77 juta
orang.

Kemiskinan menjadi masalah sosial utama yang tidak dapat dipungkiri
keberadaannya, bahkan oleh negara maju sekalipun. Meskipun kemiskinan mustahil
untuk dihilangkan dari muka bumi, namun setidaknya ada upaya-upaya yang dapat
menekan angka kemiskinan. Sebelum menentukan cara-cara mengentaskan kemiskinan,
tentunya perlu diketahui terlebih dahulu faktor-faktor yang menyebabkan
kemiskinan itu terjadi. Dengan begitu, dapat dipelajari lebih jauh bagaimana
upaya yang dapat dilakukan dalam rangka mengentaskan kemiskinan. Selain itu
juga perlu ditelaah tentang masalah kemiskinan dalam sudut pandang keagamaan,
yaitu dari perspektif Agama Islam.

 

A.   
Rumusan
Masalah

Berdasarkan uraian yang
telah tertulis diatas, maka penulis merumuskan beberapa masalah sebagai
berikut.

1.     
Apa saja faktor penyebab terjadinya kemiskinan?

2.     
Bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk
mengentaskan kemiskinan?

3.     
Bagaimana pandangan Agama Islam tentang
kemiskinan?

 

 

 

B.    
Tujuan

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas,
makalah ini ditulis dengan tujuan sebagai berikut.

1.     
Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya
kemiskinan.

2.     
Untuk mengetahui cara mengentaskan kemiskinan.

3.     
Untuk mengetahui pandangan Agama Islam tentang
kemiskinan.

 

C.   
Manfaat

Makalah ini ditulis agar dapat bermanfaat bagi para pembaca
dalam menambah wawasannya mengenai masalah kemiskinan beserta hal-hal yang
berkaitan dengannya, meliputi faktor penyebab, cara mengatasi, dan pandangan Agama
Islam tentang kemiskinan. 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.   
Faktor
Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Menurut Hartomo dan Aziz dalam Dadan Hudyana (2009:28-29)
yang dikutip oleh Sarul Mardianto, ada beberapa faktor yang mendorong
terjadinya kemiskinan, diantaranya:

1).   Rendahnya Tingkat Pendidikan

Keterbatasan pendidikan atau keterampilan yang dimiliki
seseorang menyebabkan keterbatasan kemampuan seseorang untuk masuk dalam dunia
kerja. Hal ini membawa konsekuensi pada terjadinya pengangguran dan kemiskinan.

2).   Malas Bekerja

Berkembangnya rasa malas karena lebih memilih bersandar pada
nasib menyebabkan seseorang jadi acuh tak acuh dan tidak bersemangat untuk
bekerja.

3).   Keterbatasan Sumber Daya Alam

Suatu masyarakat akan dilanda kemiskinan apabila sumber
alamnya tidak lagi memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka. Hal ini sering
dikatakan masyarakat itu miskin karena sumber daya alam yang dimiliki miskin.

4).   Terbatasnya Lapangan Kerja

Keterbatasan lapangan kerja akan berdampak pada timbulnya
kemiskinan di masyarakat. Secara ideal seseorang harus mampu menciptakan lapangan
kerja sendiri namun faktanya, hal tersebut sangat kecil kemungkinannya bagi
masyarakat miskin karena keterbatasan keterampilan dan modal yang mereka
miliki.

5).   Keterbatasan Modal

Sama halnya dengan keterampilan, modal juga dibutuhkan
seseorang untuk memulai usaha. Kemiskinan timbul karena mereka tidak mempunyai
modal untuk membeli alat maupun bahan yang berguna dalam menerapkan
keterampilan yang mereka miliki agar dapat memperoleh penghasilan.

6).   Beban Keluarga

Seseorang dengan anggota keluarga yang banyak tetapi tidak
diimbangi dengan pendapatan yang cukup maka akan memicu timbulnya kemiskinan
sebab semakin banyak anggota keluarga berarti semakin tinggi pula tuntutan atau
beban hidup yang harus ditanggung.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor
penyebab timbulnya kemiskinan terbagi 2, yaitu:

1)     
Faktor Internal

Faktor internal meliputi
faktor penyebab yang berasal dari dalam diri individu yang dilanda kemiskinan.
Beberapa diantaranya adalah:

a)      Tingkat
Pendidikan yang rendah

Pendidikan sangat berdampak pada kecakapan pola pikir dan
keterampilan yang dimiliki oleh seseorang, dan dua hal tersebut juga merupakan
indikator yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Dengan begitu, tingkat pendidikan
yang masih rendah memiliki pengaruh besar dalam menyebabkan terjadinya
kemiskinan.

b)     
Sikap Malas

Banyak juga orang yang tidak hanya miskin harta, namun juga
miskin mental. Miskin mental maksudnya adalah secara mental tidak semangat
untuk mencari kerja sehingga sudah ternanam rasa malas dalam dirinya, dan lebih
parahnya lagi, orang-orang seperti ini cenderung pasrah pada nasib.

2)     
Faktor Eksternal

Faktor eksternal mencakup faktor-faktor
penyebab kemiskinan yang berasal dari luar diri manusia, sebagai berikut:

a)     
Faktor Alam

Sumber daya alam yang terbatas berdampak pada perekonomian
masyarakat, karena mereka akan kesulitan dalam memperoleh bahan-bahan dari alam
yang dapat berguna dalam kegiatan ekonomi mereka. Hal ini tidak dapat
dipungkiri mengingat sumber daya alam merupakan salah satu faktor produksi yang
paling penting.

b)     
Keterbatasan Lapangan Kerja

Inilah yang menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi
oleh negara-negara berkembang pada umumnya, yakni pertumbuhan penduduk yang
pesat, namun tidak diimbangi dengan perluasan lapangan kerja, sehingga
berdampak pada timbulnya kemiskinan.

c)     
Pertumbuhan Penduduk Tinggi

Tingginya jumlah penduduk suatu negara juga menjadi faktor penyebab
terjadinya kemiskinan apabila tidak diiringi dengan penambahan lapangan kerja.
Persaingan untuk mendapatkan pekerjaan akan semakin ketat, akibatnya
pengangguran juga akan meningkat. Hal inilah yang menyebabkan standar hidup
masyarakat berada pada garis kemiskinan.

 

B.    
Upaya
Mengentaskan Kemiskinan

Untuk dapat mengatasi kemiskinan, ada beberapa strategi yang
dapat diterapkan (Huraerah, 2005):

1)     
 Program
pengentasan kemiskinan sebaiknya tidak hanya memprioritaskan aspek ekonomi tapi
memperhatikan dimensi lain. Dengan kata lain, pemenuhan kebutuhan pangan memang
penting, namun juga harus diperhatikan strategi pengentasan kemiskinan dari
segi nonekonomik. Strategi pengentasan kemiskinan semestinya diarahkan untuk
mengikis nilai-nilai budaya yang bersifat negatif seperti apatis, apolitis, ketidakberdayaan
agar pengentasan kemiskinan lebih mudah untuk dilakukan.

2)     
Untuk meningkatkan produktivitas, dibutuhkan
peningkatan kemampuan dasar masyarakat miskin agar pendapatan bisa meningkat
yaitu melalui program perbaikan  fasilitas kesehatan dan pendidikan,
peningkatan keterampilan wirausaha, teknologi, perluasan jaringan kerja, serta
informasi pasar yang sempurna.

3)     
Melibatkan 
masyarakat  miskin  dalam keseluruhan  proses pengentasan kemiskinan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan, dan evaluasi, bahkan pada proses pengambilan keputusan.

4)     
Memberdayakan masyarakat miskin agar senantiasa
aktif dalam menyalurkan aspirasinya terhadap pemerintah, agar terjalin
komunikasi dan kerjasama yang baik antara pemerintah dengan masyarakat. Selain
itu, pemerintah juga lebih mudah dalam menentukan kebijakan-kebijakan
sehubungan dengan masalah kemiskinan.

Secara umum, ada beberapa
cara yang dapat dilakukan dalam mengentaskan kemiskinan, diantaranya:

1)     
Membuka  peluang
 dan  kesempatan  kerja  bagi
 orang  miskin  melalui
 program  padat karya  dan  padat
 modal.

2)     
Membuat kebijakan dan program yang dapat
melindungi kelompok masyarakat miskin. Kelompok masyarakat miskin sangat rentan
terhadap goncangan internal (seperti kepala keluarga meninggal, jatuh sakit, kena
PHK), maupun goncangan eksternal (contohnya menjadi korban penipuan, bencana
alam, konflik sosial), karena tidak memiliki ketahanan atau jaminan dalam
menghadapi goncangan-goncangan tersebut.

3)     
Mempermudah akses pendidikan bagi masyarakat
miskin dengan cara memperbesar persentase bagian anggaran pendidikan dalam
APBN. Dengan begitu, akan banyak dana-dana beasiswa yang dapat disalurkan pada
masyarakat miskin yang secara finansial tidak mampu menyekolahkan anaknya.

4)     
Membuat kebijakan dan program penguatan otonomi
daerah, sehingga setiap daerah lebih terfokus dalam menanggulangi masalah
kemiskinan di daerahnya sendiri, namun dengan catatan tetap berkoordinasi
dengan pusat.

5)     
Pengentasan kemiskinan melalui pajak, karena
secara tidak langsung pajak dapat mendistribusikan pendapatan masyarakat kaya
kepada masyarakat miskin, yaitu melalui perbaikan fasilitas dan infrastuktur
yang dananya bersumber dari penerimaan pajak. Dengan demikian, masyarakat
miskin juga bisa memperoleh fasilitas dan pelayanan yang layak pada berbagai
sektor, terutama kesehatan.

 

C.   
Pandangan
Agama Islam Tentang Kemiskinan

Dalam agama Islam, terdapat dua istilah untuk orang-orang yang tidak
mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu fakir dan miskin. Adapun bedanya,
fakir adalah istilah untuk orang yang benar-benar tidak memiliki apa-apa untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan orang miskin diartikan sebagai orang
yang memiliki sedikit materi namun tidak pula memadai untuk pemenuhan kebutuhan
hidup. Singkatnya, kondisi kaum fakir lebih memprihatinkan dibandingkan kaum
miskin, sesuai dengan firman Allah dalam QS.Al-Kahfi:79.

Pembahasan mengenai
kemiskinan dalam Agama Islam tentunya didasarkan pada Al-Quran dan Hadits. Cara
mengentaskan kemiskinan juga dikaji dalam Al-Quran, beberapa diantaranya:

 

 

1)      Kesadaran Setiap Individu untuk Bekerja

Setiap manusia harus
berusaha dan bekerja keras untuk kelangsungan hidupnya, dan Allah juga tidak
menyukai orang-orang yang bermalasan, seperti yang tertuang dalam Surat Alam
Nasyrah ayat 7-8 yang artinya:

“Maka apabila kamu
telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.
S. Alam Nasyrah 94: 7-8).

Dalam ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa
Allah akan sangat meridhoi setiap pekerjaan yang dilakukan seseorang, selama
usaha tersebut halal dan berada pada jalan yang benar. Selain itu, agama islam
juga menganjurkan kepada umatnya agar berhijrah atau istilah umumnya “merantau”
agar dapat mengais rezeki ke tempat lain, tidak terpaku hanya pada satu tempat.
Seperti yang tertera dalam Surat An-Nisa’ ayat 100 yang artinya:

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka
bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar
dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian
kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah
tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Q. S. an-Nisa’ 4: 100).

2)     
Saling Membantu Satu Sama Lain

Setiap manusia diperintahkan untuk membantu
satu sama lain. Dalam agama Islam, seseorang dapat menolong orang lain melalui
berbagai macam bentuk sumbangan, seperti sedekah, infaq dan zakat. Namun yang
menjadi kewajiban bagi orang-orang yang mampu adalah dengan membayarkan zakat,
contohnya zakat fitrah pada bulan Ramadhan. Kewajiban membantu orang lain yang
membutuhkan ini tertuang dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 19

“Dalam harta mereka ada hak untuk (orang miskin yang meminta) dan yang
tidak berkecukupan (walaupun tidak meminta).” (Q. S. Adz-Dzariyat (51): 19).

Faktanya, orang fakir maupun orang miskin
memang berhak menerima zakat, karena harta yang dimiliki manusia pada
hakikatnya adalah milik Allah, sehingga dalam harta orang kaya, ada hak orang
fakir dan orang miskin di dalamnya, agar kesenjangan sosial yang mungkin
terjadi dapat dihindari. Ketentuan bahwa orang fakir dan orang miskin termasuk
kedalam golongan orang yang berhak menerima zakat telah diatur dalam Al-Quran
Surat At-Taubah ayat 60, yang artinya:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,
orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya,
untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan
orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang
diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS.At-Taubah/9:60).

Allah juga mengecam umatnya yang enggan menafkahkan hartanya
di jalan Allah (membayar zakat mal/harta yang sifatnya wajib), seperti yang
tertuang dalam Surat At-Taubah ayat 34-35 yang artinya:

“Dan
orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan
Allâh, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa
yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahannam, lalu
dahi, lambung dan punggung mereka dibakar dengannya, (lalu dikatakan) kepada
mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka
rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.(QS.At-Taubah/9:34-35).

Meskipun kemiskinan merupakan musuh besar umat Islam, dalam
artian, tidak ada satupun ajaran dalam agama Islam yang menyuruh umatnya
menjadi miskin. Namun dalam agama Islam, umatnya diajarkan untuk selalu
mengambil hikmah atas setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup, termasuk kemiskinan.
Hikmah yang dapat diambil dari kemiskinan dalam hidup adalah sebagai ajang bagi
manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya dan melatih kesabaran diri dalam
melewati masa-masa sulit. Hal ini telah dibahas dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah
ayat 155, yang artinya:

“Dan
sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar”. (QS.Al-Baqarah/2:155).

Sesungguhnya, banyak sekali hikmah dibalik setiap kejadian
yang menimpa hidup manusia, tergantung bagaimana manusia itu menyikapinya. Satu
hal yang terpenting adalah meyakini bahwa Allah tidak akan pernah membebani
hambanya dengan cobaan yang melebihi batas kemampuan hambanya. Selain itu,
semua yang dimiliki manusia di muka bumi ini hanyalah titipan Allah semata,
sehingga tidak ada alasan bagi yang mampu untuk tidak membantu saudaranya yang
membutuhkan.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.   
Kesimpulan

Kemiskinan menjadi masalah yang akan terus ada di muka bumi
ini. Sampai saat ini belum ada solusi yang benar-benar bisa mengatasi
kemiskinan secara sepenuhnya. Ada beberapa faktor penting yang dapat mendorong
timbulnya kemiskinan, yang meliputi:

1)     
Faktor Internal

a)     
Tingkat pendidikan yang rendah

b)     
Sikap malas

2)     
Faktor Eksternal

a)     
Faktor alam

b)     
Keterbatasan lapangan kerja

c)     
Pertumbuhan penduduk tinggi

 Dengan mengetahui
faktor penyebab kemiskinan diatas, manusia dapat mengkaji upaya-upaya yang
dapat dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan dengan fokus menanggulangi
masalah-masalah yang menjadi faktornya terlebih dahulu, termasuk meluaskan
lapangan kerja, memberdayakan masyarakat miskin, melindungi hak mereka, serta
mempermudah akses pendidikan bagi mereka. Organisasi internasional PBB juga
telah menetapkan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang salah satunya adalah
mencapai kehidupan dunia tanpa kemiskinan.

Untuk mencapai tujuan pengentasan kemiskinan tidak hanya
menjadi tugas pemerintah negara semata, namun juga dibutuhkan peran dari
seluruh warga dunia agar saling membantu satu sama lain dalam rangka
menanggulangi kemiskinan. Seperti yang telah diajarkan dalam agama Islam bahwa,
selain setiap manusia diwajibkan agar bekerja keras demi kelangsungan hidupnya,
namun masyarakat yang tergolong menengah keatas tidak boleh lupa akan kewajiban
mereka untuk membantu saudaranya yang lain yang tidak seberuntung dirinya.

Jikalau semua orang mau menjalankan kewajibannya masing-masing dengan
baik, maka tidak hanya kemiskinan yang dapat ditanggulangi, dalam hal ini,
kesenjangan sosial juga dapat dikurangi. Apabila orang fakir dan orang miskin
senantiasa bekerja keras meskipun tidak mencukupi, tetapi setidaknya mereka
tidak bermalasan atau bahkan hanya bersandar pada nasib, maka perlahan-lahan
pengentasan kemiskinan pun dapat terlaksana. Tidak hanya itu, apabila
masyarakat yang tergolong serba berkecukupan rajin membayar pajak dan zakat,
maka tidak akan ada lagi kesenjangan antara si kaya dan si miskin, dan
kehidupan dunia tanpa kemiskinan pun dapat tercapai.

 

B.    
Saran

Berdasarkan paparan kesimpulan diatas, penulis memberikan
saran sebagai berikut:

1)     
Setiap masyarakat yang tergolong miskin harus
bekerja untuk kelangsungan hidupnya, tidak bermalasan ataupun berpasrah pada
nasib.

2)     
Setiap masyarakat yang tergolong menengah ke
atas dalam perekonomiannya berkewajiban untuk rajin dan tepat waktu membayar
pajak, dan terutama untuk umat agama Islam, wajib pula membayarkan zakat sesuai
dengan syariat agama.

3)     
Melalui penerimaan pajak, pemerintah harus fokus
untuk memperbaiki pelayanan, fasilitas dan infrastruktur di pusat maupun
daerah, serta mempermudah cara akses berbagai fasilitas, termasuk kesehatan,
pendidikan bagi masyarakat yang tidak mampu. Selain itu, penerimaan zakat yang telah
dikelola sendiri oleh BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) harus benar-benar
diperhatikan pengalokasiannya agar yang menerima zakat hanyalah 8 kelompok,
termasuk orang fakir dan orang miskin, sesuai dengan Al-Quran Surat At-Taubah
ayat 60 yang telah tertulis pada bab pembahasan diatas.  

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Velma!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out