Site Loader
Rock Street, San Francisco

A.     Latar Belakang

Proses
pendidikan dalam mengembangkan anak lebih baik dilakukan pada masa usia dini.
Pada masa usia dini merupakan masa yang tepat untuk anak dalam mengenali segala
bentuk fakta yang ada di sekitar lingkungan tempatnya sebagai stimulant dalam
perkembangan kepribadian, bahasa, psikomotor, kognitif dan sosial.1
Anak usia dini sering sekali menirukan berbagai hal yang dilihat, dirasakan
maupun didengarnya di sekitar lingkungan. Hal ini dikarenakan anak belum bisa
mengetahui baik atau buruknya yang dilihat, dirasakan maupun didengarnya. Maka
dari itu, masa usia dini merupakan masa yang rentan terhadap sebuah pengaruh
dari lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, hal tersebut dapat dimanfaatkan bagi
suatu lingkungan yang dalam hal ini ialah orang tua serta guru untuk mengembangkan
potensi yang ada pada anak sebaik mungkin dengan menyediakan suatu lingkungan
atau suatu tempat kegiatan yang sesuai dengan perkembangan anak itu sendiri.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Potensi
penalaran anak terhadap moral sangat perlu diperhatikan. Hal tersebut
dikarenakan dapat mempengaruhi pembentukan suatu karakter anak.2
Maka dari itu, penting sekali mengembangkan nilai-nilai moral pada
anak usia dini. Nilai merupakan sebuah harga atau diyakini sebagai hal yang
berguna bagi manusia, sedangkan moral diartikan sebagai kebiasaan bertingkah
laku dengan baik atau berperilaku baik. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengembangan
nilai moral merupakan suatu pembentukan perilaku anak dengan cara kebiasaan
yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut agar anak sedini
mungkin mempersiapkan diri dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang
dilandasi dengan moral pancasila.3

Dapat
membedakan mana hal-hal baik dan buruk memperlihatkan nilai-nilai moral yang
dimiliki pada diri seorang anak. Maka dari itu, mengembangkan nilai-nilai moral
pada anak usia dini diupayakan menggunakan cara yang tepat supaya pesan-pesan moral
yang disampaikan tidak terhambat bagi anak dalam penerimaannya. Upaya yang
dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan metode storytelling atau mendongeng
dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini.

Menanamkan
nilai-nilai luhur pada anak, para orang tua biasanya menggunakan metode storytelling
atau mendongeng dalam hal mendidik anaknya. Storytelling atau
mendongeng identik dengan cerita mitos maupun cerita yang dijadikan sebagai
pengantar tidur bagi anak. Selain itu, storytelling atau mendongeng
diartikan berbagai kejadian nyata lalu dikemas sedemikian rupa dengan menggunakan
bantuan dari sebuah teknologi sehingga menjadikannya sesuatu yang menarik dan
kaya akan pesan moral.4
Pemilihan storytelling atau mendongeng bagi anak usia dini harus
diperhatikan. Oleh karena itu, memilih dongeng yang berisi nasehat, bimbingan, maupun
pesan moral akan lebih berguna bagi kehidupan anak itu sendiri. Dalam hal ini, storytelling
atau mendongeng menduduki ranking teratas dalam mengubah sikap atau
perilaku anak dengan cara yang membuat mereka senang, mengembangkan imajinasi
anak, mengekspresikan diri anak, mengasah emosional anak dan memperkaya ilmu
pengetahuan anak terhadap lingkungan sekitarnya.5

Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mendefinisikan bahwa metode storytelling
atau mendongeng adalah sebuah cerita yang disampaikan melalui tutur kata
atau penjelasan secara lisan kepada anak dalam memperkenalkan suatu hal baru
yang belum diketahui sebelumnya. Seorang guru harus paham terlebih dahulu
terhadap nilai-nilai moral yang akan disampaikannya melalui storytelling
atau mendongeng kepada murid-murid. Selain itu juga, ia harus menguasai teknik
yang baik dalam bercerita. Hal tersebut dipercaya akan merubah sikap atau
perilaku anak menjadi lebih baik dari keseharian yang dilakukan sebelumnya.
Dengan demikian, metode storytelling atau mendongeng mampu menjadi sebuah
metode yang efektif digunakan dalam hal pengembangan nilai-nilai moral bagi anak
usia dini jika diterapkan secara tepat dan sesuai.

Akan
tetapi, kenyataannya masih banyak nilai-nilai moral belum berkembang baik pada
anak usia dini, seperti masih banyak anak yang kurang menghormati gurunya,
tidak menggunakan pakaian dengan rapi, membuang sampah tidak pada tempatnya, bersikap
kasar, kurang bertanggung jawab dan kurang menghargai antar teman. Masalah
tersebut disebabkan oleh kurangnya fasilitas yang disediakan, seperti buku
cerita maupun bergambar, permainan dengan boneka tangan sebagai alatnya, serta metode
yang tidak beragam dan kurang tepat yang menyebabkan timbulnya perasaan bosan
bagi anak.

Dengan
demikian, memecahkan masalah dari penjelasan di atas dapat dilakukan menggunakan
metode storytelling atau mendongeng dalam pengembangan nilai-nilai moral
pada anak usia dini. Hal tersebut dianggap akan jauh lebih efektif terlebih
diterapkannya secara tepat dan sesuai. Semoga penelitian yang berjudul “Pengembangan
Nilai-nilai Moral pada Anak Usia Dini Melalui Metode Storytelling”
bermanfaat dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini serta
menambah pengetahuan khususnya bagi para guru dan orang tua.

 

B.     Tujuan Penelitian

Tujuan
dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1.     
Untuk mengetahui
penerapan metode storytelling atau mendongeng dalam pengembangan
nilai-nilai moral pada anak usia dini.

2.     
Untuk mengetahui kendala
yang dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini melalui
penerapan metode storytelling atau mendongeng.

 

C.     Metode Penelitian

Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.
Penelitian deskriptif adalah mendeskripsikan atau menjelaskan sesuatu hal
seperti apa adanya merupakan tujuan dalam sebuah penelitiannya.6 Dalam
memilih pendekatan penelitian harus sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan.
Pada penelitian ini, yaitu menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan
kualitatif adalah pendekatan dengan tujuan untuk mengetahui makna yang sebenarnya
dari berbagai fakta yang ada. Data dalam penelitian ini dikumpulkan berdasarkan
data primer. Data primer adalah data yang diambil langsung dari sumbernya tanpa
perantara. Sumbernya dapat berupa manusia, situs website maupun benda-benda.
Pada kesempatan ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan
wawancara.

a.      
Observasi yaitu sebuah teknik pengumpulan
data dengan menggunakan cara terstruktur dan sengaja dilakukan dengan cara
melakukan pengawasan dan pencatatan dari berbagai fenomena yang ada.

b.     
Wawancara yaitu teknik pengumpulan
data yang dilakukan peneliti dalam mendapatkan fakta-fakta secara lisan melalui
percakapan dan langsung bertatap muka dengan orang yang dijadikan sumber
informasi.7

 

D.     Hasil dan Pembahasan

1.     
Hasil

Hasil
yang didapat dari suatu observasi mengungkapkan bahwa suatu metode storytelling
atau mendongeng dapat dilakukan oleh para guru dengan syarat harus mengacu pada
topik pembahasan yang terdapat dalam silabus mata pelajaran. Anak lebih mudah
memahami cerita yang disampaikan oleh guru dibandingkan harus membaca cerita sendiri.
Berdasarkan hasil wawancara dari salah satu guru sekolah dasar, bahwa ia menyatakan:

a.      
Sebelum menggunakan
metode storytelling atau mendongeng biasanya melalui metode pembiasaan,
metode demonstrasi, dan metode bermain dalam pengembangan nilai-nilai moral
pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar. Pada dasarnya sudah cukup baik
tetapi masih sangat rendah dalam mengembangkan nilai moral anak. Maka dari itu,
digunakanlah metode storytelling atau mendongeng. Setelah dilaksanakan
metode tersebut terjadilah sebuah perubahan yang melonjak tinggi terhadap sikap
dan perilaku anak atau siswa tersebut.

b.     
Sebuah kemampuan mengalami
pengembangan berupa pengetahuan baru bagi anak berkat diterapkannya metode storytelling
atau mendongeng pada anak usia dini. Supaya mendongeng lebih menyenangkan bagi
anak maka pada saat mendongeng harus sesuai dengan perkembangan anak itu
sendiri, baik dari segi bahasa, media maupun tahapan-tahapan dalam
pelaksanaannya.

c.      
Beberapa kendala yang
dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral melalui metode storytelling
atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar yaitu sebagai
berikut:

1)     
Kurangnya tenaga kerja
atau guru. Dibutuhkan beberapa guru, minimal dua orang guru dalam pelaksanaan
metode storytelling atau mendongeng. Satu guru bertugas sebagai
pencerita dan guru lainnya bertugas mendampingi dan mengatur anak-anak agar tetap
kondusif, sehingga dalam pelaksanaan mendongeng dapat terlaksana dengan lancar.
Selain itu, agar anak dapat tertarik terhadap cerita yang disampaikan, setiap
guru diharuskan memiliki keterampilan seperti menggunakan berbagai jenis suara,
ekspresif, serta menggunakan berbagai media salah satunya boneka jari atau
tangan.

2)     
Kurangnya fasilitas atau
alat peraga yang menyebabkan guru harus menguasai berbagai teknik dalam
bercerita agar pesan moral yang ada dalam cerita bisa dipahami oleh anak.

 

2.     
Pembahasan

a.     
Pengembangan
Nilai-nilai Moral

Nilai
merupakan sebuah harga atau diyakini sebagai hal yang berguna bagi manusia. Sedangkan,
moral adalah perubahan pikiran, anggapan, dan tingkah laku tentang standar
mengenai benar dan salah. Standar benar dan salah yang mengatur perubahan pikiran,
anggapan, dan tingkah laku ini menanjak berdasarkan lingkungan tempat yang
ditinggali berkembang. Sehingga moral dapat juga dikatakan sebagai tradisi atau
kebiasaan. Selain itu moral juga dikatakan sebagai tatanan atau aturan.8

Moral
dapat disimpulkan sebagai kondisi pikiran, anggapan, dan tingkah laku manusia
yang melekat dengan nilai-nilai baik dan buruk. Amoral merupakan sebutan bagi manusia
yang tidak memiliki moral. Artinya manusia tersebut tidak memiliki nilai baik
dipandangan manusia lainnya. Maka dari itu, setiap manusia harus memiliki
moral.

Dengan
demikian, pengembangan nilai moral merupakan pembentukan pikiran, anggapan, dan
tingkah laku melalui pembiasaan diri dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut
untuk mengonsepkan anak sedini mungkin dalam mengembangkan sikap dan perilaku sesuai
pancasila. Pada dasarnya pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini
atau siswa sekolah dasar menggunakan metode pembiasaan, metode demonstrasi, dan
metode bermain sudah cukup baik, tetapi ketika menggunakan metode storytelling
atau mendongeng terjadi sebuah perubahan yang meningkat tinggi terhadap sikap
dan perilaku anak atau siswa.

 

b.     
Metode
Storytelling atau Mendongeng

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia mendefinisikan bahwa metode storytelling atau mendongeng
adalah sebuah cerita yang disampaikan melalui tutur kata atau penjelasan secara
lisan kepada anak dalam memperkenalkan suatu hal baru yang belum diketahui
sebelumnya. Metode storytelling atau mendongeng ini lebih banyak
digunakan karena anak-anak lebih senang jika mendengarkan gurunya bercerita
daripada harus membaca ceritanya sendiri. Supaya mendongeng lebih menarik
perhatian anak maka pada saat mendongeng harus dipilihkan cerita yang sesuai
dengan usia anak dan kesukaan anak diusianya. Selain itu cerita yang dipilih
harus berisikan nilai-nilai moral yang nantinya akan merubah perkembangan anak
itu sendiri.

Sebuah kemampuan mengalami pengembangan berupa
pengetahuan baru bagi anak berkat diterapkannya metode storytelling atau
mendongeng pada anak usia dini. Supaya mendongeng lebih menyenangkan bagi anak
maka pada saat mendongeng harus sesuai dengan perkembangan anak itu sendiri,
baik dari segi bahasa, media maupun tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya. Penerapan
metode storytelling atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa
sekolah dasar dapat dilakukan dimana saja, sesuai dengan kebutuhan, keinginan
dan kondisi yang ada.

 

c.      
Peranan
Metode Storytelling atau Mendongeng dalam Mengembangkan Nilai-Nilai
Moral

Storytelling atau mendongeng merupakan metode dari sekian banyak
metode yang digunakan dalam hal pengembangan nilai-nilai moral anak usia dini.
Melalui metode storytelling atau mendongeng, berbagai pesan moral untuk
anak dapat disampaikan. Menurut Otib Satibi Hidayat, storytelling atau
mendongeng dapat ditanamkan berbagai macam nilai moral, nilai agama, nilai
sosial, nilai budaya, dan sebagainya.

Sedangkan, Moeslichatoen menjelaskan bahwa, metode storytelling
atau mendongeng adalah menanamkan pesan-pesan atau nilai-nilai sosial,
moral, dan agama yang terdapat dalam sebuah cerita sesuai dengan tujuannya. Sebuah
pikiran, anggapan dan tingkah laku anak dapat berubah karena metode storytelling
atau mendongeng. Bercerita memiliki daya tarik tersendiri yang membuat anak
menyukai dan memperhatikan. Melalui sikap-sikap dari tokoh yang ada dalam
sebuah cerita dapat memberikan pengalaman dan pembelajaran moral bagi anak
karena mereka telah merekam semua peristiwa dalam cerita. Supaya dapat mengetahui
adanya peranan metode storytelling atau mendongeng dalam mengembangkan
nilai-nilai moral pada anak usia dini atau anak sekolah dasar maka dilakukan
sebuah pengamatan.

 

 

E.     Simpulan dan Saran

1.     
Simpulan

Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan penelitian tentang peranan metode storytelling
atau mendongeng dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:

a.      
Sebelum menggunakan
metode storytelling atau mendongeng yaitu melalui metode pembiasaan,
metode demonstrasi, dan metode bermain dalam pengembangan nilai-nilai moral
pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar. Pada dasarnya sudah cukup baik
tetapi masih sangat rendah dalam mengembangkan nilai moral anak. Maka dari itu,
digunakanlah metode storytelling atau mendongeng. Setelah dilaksanakan
metode tersebut terjadilah sebuah perubahan yang melonjak tinggi terhadap sikap
dan perilaku anak atau siswa tersebut.

b.     
Sebuah kemampuan mengalami
pengembangan berupa pengetahuan baru bagi anak berkat diterapkannya metode storytelling
atau mendongeng pada anak usia dini. Supaya mendongeng lebih menyenangkan bagi
anak maka pada saat mendongeng harus sesuai dengan perkembangan anak itu
sendiri, baik dari segi bahasa, media maupun tahapan-tahapan dalam
pelaksanaannya.

c.      
Beberapa kendala yang
dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral melalui metode storytelling
atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar yaitu sebagai
berikut:

1)     
Kurangnya tenaga kerja
atau guru. Dibutuhkan beberapa guru, minimal dua orang guru dalam pelaksanaan
metode storytelling atau mendongeng.

2)     
Kurangnya fasilitas atau
alat peraga yang menyebabkan guru harus menguasai berbagai teknik dalam
bercerita agar pesan moral yang ada dalam cerita bisa dipahami oleh anak.

 

2.     
Saran

Adapun
beberapa saran dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

a.      
Diharapkan agar para
guru menggunakan bantuan alat peraga, salah satunya boneka tangan untuk menarik
perhatian anak dalam mendengarkan cerita.

b.     
Diharapkan bagi para orang
tua agar mengajarkan anak nilai-nilai moral di rumah setiap harinya, seperti
membacakan cerita yang berisikan nilai moral dan bukan hanya mengandalkan
sekolah saja.

c.      
Diharapkan bagi para
peneliti lain, hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan
dalam menyusun penelitian selanjutnya bagi yang sama maupun berbeda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Made Kerta Adhi. “Model
Pendidikan Karakter Berbasis Mendongeng.” Jurnal Santiaji Pendidikan
Vol. 4 (2014).

 

Mega Yulianti. “Peranan Metode Bercerita dalam
Mengembangkan Nilai-nilai Moral pada Anak di Kelompok B2 TK Pertiwi Palu.” Bungamputi
Vol. 2 (2014).

 

Moleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.

 

Muzdalifah M. Rahman. “Metode Bercerita Membentuk
Kepribadian Muslim pada Anak Usia Dini.” Thufula Vol. 1 No. 1 (2013).

 

Nanik Iis. “Pengembangan Empati Anak Usia Dini
Melalui Mendongeng di Taman Kanak-kanak Asyiyah Pariaman.” Jurnal Pesona
Paud Vol. 1 No. 04 (2012).

 

Prasetya Irawan. Logika dan Prosedur Penelitian.
Jakarta, STIA-LAN.

 

Pupung Puspa Ardini. “Pengaruh Dongeng dan
Komunikasi Terhadap Perkembangan Moral Anak Usia 7-8 Tahun.” Jurnal
Pendidikan Anak Vol. 1 (2012).

 

Yulfrida Rahmawati. “Pengenalan Budaya Melalui
Bercerita untuk Anak Usia Dini.” Jurnal Pendidikan Anak Vol. 1 (2012).

1 Yulfrida Rahmawati, “Pengenalan Budaya Melalui Bercerita untuk Anak
Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Anak Vol. 1 (2012): hal. 73.

2 Muzdalifah M. Rahman, “Metode Bercerita Membentuk Kepribadian
Muslim pada Anak Usia Dini,” Thufula Vol. 1 No. 1 (2013): hal. 75.

3 Mega Yulianti, “Peranan Metode Bercerita dalam Mengembangkan
Nilai-nilai Moral pada Anak di Kelompok B2 TK Pertiwi Palu,” Bungamputi
Vol. 2 (2014): hal. 155.

4 Made Kerta Adhi, “Model Pendidikan Karakter Berbasis Mendongeng,” Jurnal
Santiaji Pendidikan Vol. 4 (2014).

5 Nanik Iis, “Pengembangan Empati Anak Usia Dini Melalui Mendongeng
di Taman Kanak-kanak Asyiyah Pariaman,” Jurnal Pesona Paud Vol. 1 No. 04
(2012): hal. 3.

6 Prasetya Irawan, Logika dan Prosedur Penelitian (Jakarta,
STIA-LAN), hal. 60.

7 Moleong, Lexy J., Metode Penelitian Kualitatif (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 64.

8 Pupung Puspa Ardini, “Pengaruh Dongeng dan Komunikasi Terhadap Perkembangan
Moral Anak Usia 7-8 Tahun,” Jurnal Pendidikan Anak Vol. 1 (2012): hal.
51.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Velma!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out